*Curhatan mengenai dunia akademis ini tidak ilmiah dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Di dalam curhatanku ini hanya berisi sebatas perasaanku saja.
Dunia akademis itu sangat menantang. Menurutku pribadi, dunia akademis itu penting untuk mempersiapkan individu menjadi individu yang matang dan siap menghadapi realitas dunia yang pada era ini apa-apa serba cepat. Sama juga halnya dengan mengerjakan tugas atau paper, kita harus disiplin dan harus bisa menyelesaikannya tepat waktu. Itu yang namanya tanggungjawab.
Setiap individu juga pasti punya targetlah dalam hidupnya. Aku pun begitu. Di setiap jenjang semester, aku selalu membuat sebuah perencanaan tentang aktivitas yang akan aku lakukan beserta targetnya. Contohnya semester 1 dan 2 aku harus memiliki teman sebanyak-banyaknya, ikut event lah, ikut UKM lah, ikut organisasi, dan lain-lain dengan tujuan mendapatkan teman yang sebanyak-banyaknya, terus semester 3 ikut lomba, dan seterusnya.
Nah, dengan adanya perencanaan dan target-target tersebut, menurutku, aku harus punya ritme kerja yang cepat dan teratur. Sayang gitu loh, kalau kita udah bikin perencanaan dan target, tapi kitanya ga ada niat dan loyo-loyo. Woy bangun! Aku meniatkan diri untuk disiplin dalam tugas dan lain-lain, kalau butuh aku minum kopi 2 gelas. Biar tanggungjawabku terpenuhi dan aku ga menyusahkan dosenku dan orang lain. Di luar itu, kembali lagi demi kebaikanku sendiri.
Untuk mendukung perencanaan dan targetku terpenuhi, ditambah lagi tugas sekolah dan kampus banyak banget tugas kelompok, aku harus pandai-pandai ga cuma ngatur diriku sendiri, tapi juga ngatur orang lain. Sebenernya lebih tepatnya bukan mengatur orang lain, otoriter banget, tapi memanage komunikasi dan ritme kerja agar klop dan berhasil mencapai tujuan bersama.
Tetapi, permasalahannya adalah susah banget cari kolega atau teman kerja yang memiliki ritme kerja yang sama. Secara pribadi aku merasa memiliki ritme kerja yang cepat dan rasanya sebel banget kalau kolega kita tidak bekerja seperti ritme kerja kita. Ya, walaupun setiap orang memang memiliki ritme kerja yang berbeda. Tetapi, tolong ya, kerja cepat dan profesional itu adalah etos kerja yang harus dibangun sejak dini. Kerja cepat bukan berarti kita menyelesaikan kerjaan dengan waktu yang singkat, tapi gimana caranya kerjaan itu bisa selesai dengan hasil yang baik tapi dikerjakan secara menggunakan time-management yang baik. Toh, kalau kerjaannya baik dan time-management nya bagus kembali buat kepentingan dan kebaikan bersama, kan?
Dari semua curcolanku, aku belajar untuk berusaha menerima orang apa adanya. Berusaha, tetapi rasanya hati ini ga mau menyerah begitu aja buat mendorong dan memotivasi orang untuk bekerja on time, contohnya mengingatkan tugas dan berinisiatif. Oh ya, satu kata itu penting, INISIATIF. Itu juga susah carinya.
Tetapi apapun itu kerja individu emang paling enak! Hahaha
Vielen Dank, Tschiao!
Dunia akademis itu sangat menantang. Menurutku pribadi, dunia akademis itu penting untuk mempersiapkan individu menjadi individu yang matang dan siap menghadapi realitas dunia yang pada era ini apa-apa serba cepat. Sama juga halnya dengan mengerjakan tugas atau paper, kita harus disiplin dan harus bisa menyelesaikannya tepat waktu. Itu yang namanya tanggungjawab.
Setiap individu juga pasti punya targetlah dalam hidupnya. Aku pun begitu. Di setiap jenjang semester, aku selalu membuat sebuah perencanaan tentang aktivitas yang akan aku lakukan beserta targetnya. Contohnya semester 1 dan 2 aku harus memiliki teman sebanyak-banyaknya, ikut event lah, ikut UKM lah, ikut organisasi, dan lain-lain dengan tujuan mendapatkan teman yang sebanyak-banyaknya, terus semester 3 ikut lomba, dan seterusnya.
Nah, dengan adanya perencanaan dan target-target tersebut, menurutku, aku harus punya ritme kerja yang cepat dan teratur. Sayang gitu loh, kalau kita udah bikin perencanaan dan target, tapi kitanya ga ada niat dan loyo-loyo. Woy bangun! Aku meniatkan diri untuk disiplin dalam tugas dan lain-lain, kalau butuh aku minum kopi 2 gelas. Biar tanggungjawabku terpenuhi dan aku ga menyusahkan dosenku dan orang lain. Di luar itu, kembali lagi demi kebaikanku sendiri.
Untuk mendukung perencanaan dan targetku terpenuhi, ditambah lagi tugas sekolah dan kampus banyak banget tugas kelompok, aku harus pandai-pandai ga cuma ngatur diriku sendiri, tapi juga ngatur orang lain. Sebenernya lebih tepatnya bukan mengatur orang lain, otoriter banget, tapi memanage komunikasi dan ritme kerja agar klop dan berhasil mencapai tujuan bersama.
Tetapi, permasalahannya adalah susah banget cari kolega atau teman kerja yang memiliki ritme kerja yang sama. Secara pribadi aku merasa memiliki ritme kerja yang cepat dan rasanya sebel banget kalau kolega kita tidak bekerja seperti ritme kerja kita. Ya, walaupun setiap orang memang memiliki ritme kerja yang berbeda. Tetapi, tolong ya, kerja cepat dan profesional itu adalah etos kerja yang harus dibangun sejak dini. Kerja cepat bukan berarti kita menyelesaikan kerjaan dengan waktu yang singkat, tapi gimana caranya kerjaan itu bisa selesai dengan hasil yang baik tapi dikerjakan secara menggunakan time-management yang baik. Toh, kalau kerjaannya baik dan time-management nya bagus kembali buat kepentingan dan kebaikan bersama, kan?
Dari semua curcolanku, aku belajar untuk berusaha menerima orang apa adanya. Berusaha, tetapi rasanya hati ini ga mau menyerah begitu aja buat mendorong dan memotivasi orang untuk bekerja on time, contohnya mengingatkan tugas dan berinisiatif. Oh ya, satu kata itu penting, INISIATIF. Itu juga susah carinya.
Tetapi apapun itu kerja individu emang paling enak! Hahaha
Vielen Dank, Tschiao!