Monday, July 11, 2016

Berselubung Hutan Hitam (Black Forest) #3

Kali ini aku akan bercerita mengenai Ausflug (rekreasi) dan kegiatan yang aku lakukan diluar kegiatan belajar mengajar. Tentunya di Kota Freiburg dan sekitarnya selama aku tinggal di sana. Dari kegiatan-kegiatan itu aku bisa melihat kultur dan beberapa hal terutama mengenai norma dan etika selama tinggal di Jerman. Dan dalam beberapa hal pasti akan berbeda dibandingkan dengan di Indonesia.

Selama tiga minggu itu kami melakukan berbagai aktivitas dan rekreasi. Aktivitas mulai dari olahraga, fotografi, melihat opera, konser, berkeliling di Albert-Ludwig-Universtaet, Freiburg, dan jalan-jalan di beberapa destinasi wisata di Kota Freiburg, dan di sekitarnya. Dan menariknya kami tidak bermain di daerah perkotaan/ kota besar, namun kami bermain di tempat-tempat yang jauh dari perkotaan, seperti ke hutan, danau, kota tua, gunung, dan lain sebagainya.

Dimulai dari aktivitas di minggu pertamaku. Seperti biasa di setiap hari senin-sabtu kami belajar. Tetapi, kegiatan belajar mengajar hanya sampai hari Sabtu siang, setelah itu kami melakukan aktivitas bebas dan jalan-jalan. Pada minggu pertama, tepatnya Sabtu malam kami melakukan Switch Party. Switch Party adalah pesta yang mengharuskan pesertanya menggunakan pakaian yang berlawanan dengan gender, contohnya aku (laki-laki) menggunakan pakaian perempuan dan sebaliknya. Party itu dilanjutkan dengan disco dan minum, karena kami pada saat itu masih di bawah 18 tahun dan dalam hukum di Jerman kami belum boleh untuk minum alkohol. Jadi, "Alkohol ist verboten (dilarang), Rauchen (merokok) ist verboten!", Christiane (ketua panitia) selalu mengatakan itu.

(Dani, Aku, (L)Ola, saat switch party)

Aku lupa hari keberapa. Tetapi pada minggu pertama itu kami jalan kaki menyusuri black forest/ Schwarzwald untuk sampai ke Schlossberg. Kami berjalan dari sekitar jam 2 siang sampai maghrib (jam 4/5 sore, karena winter gelap lebih awal). Aku dan Lola (sahabatku selama di Jerman) selalu jalan terakhir, sampai teman-teman yang lain harus menunggu kami, dan terkadang meninggalkan kami untuk berfoto bersama. Kami mengitari hutan pinus dan lembah hijau, sampai pada akhirnya sampailah kami di Schlossberg, di sini terdapat gardu pandang. Dan dari situ kita bisa melihat indahnya Kota Freiburg dari ketinggian.
(Yang dilingkari Lola dan Aku, saat itu masih kecapekan naik gunung ditinggal teman-teman)

Paginya, yaitu hari Minggu, kami melakukan Ausflug (rekreasi) ke Titisee. Titisee itu ibarat Narnia-nya Jerman. Di sana terdapat hutan (Black Forest/ Schwarzwald) dan danau yang dipenuhi salju, di sanalah adalah tempat bersejarah pertama kali aku memegang salju. Aku sangat kagum dengan tempat itu. Kami berangkat dari stasiun kecil di belakang Jugendherberge, kami jalan kaki dari Jugendherberge ke stasiun sekitar 15-20 menit. Dari sana kami naik kereta, perjalanannya lumayan lama (1-2 jam) dan kereta itu sangat penuh. Awalnya aku berdiri di gerbong sepeda, lalu aku pindah ke lantai dua untuk melihat pemandangan (keretanya 2 lantai). 

Sesampainya di Stasiun Titisee kami masih harus berjalan kaki sampai ke danau. Selama perjalanan kaki tentu kami bernyanyi-nyanyi dan bersenang-senang sambil bermain lempar-lemparan salju. Dan yang paling parah adalah ketika temanku memasukkan salju ke dalam bajuku, seru tapi perih (jangan dicoba). Sesampainya di Titisee atau Danau Titi kami berbelanja cinderamata dan berfoto ria.
(Rombongan di depan Titisee)

Kami pulang jam setengah lima sore. Sesampainya di Jugendherberge aku langsung ganti baju dan siap-siap olahraga malam di sebuah GOR di dekat kota tua Freiburg, kami naik trem dan jalan kaki untuk pergi kesana, kami bermain voli, sepakbola, dan basket. Kami selesai bermain sekitar jam 10 malam dan kami pulang dengan jalan kaki dan naik trem. Lumayan melelahkan tapi lama-kelamaan terbiasa. Mungkin memang begitu budaya orang Jerman, kemana-mana jalan dan rajin olahraga, jadi mereka bisa punya tubuh yang sehat bugar dan panjang umur.

Buat kalian yang pengen liat foto-foto kami bisa buka di Instagram dengan hashtag jukuantics (#jukuantics).

Sekian dulu untuk Ausflug dan aktivitas di luar kegiatan belajar mengajar di minggu pertama. Tunggu post-postku selanjutnya ya! Bis Bald!



Monday, July 4, 2016

Berselubung Hutan Hitam (Black Forest) #2

Kali ini aku masih akan melanjutkan mengenai ceritaku pertama kali menginjakkan kaki di Jugendherberge-nya Freiburg. 

Di Jugendherberge aku tinggal selama kurang lebih tiga minggu di kamar nomor 202. Di sana aku tinggal bersama teman-teman dari Brazil, Selandia Baru, dan Bolivia. Mereka bernama Christian, Lewis, dan Alan. Setiap malam kami bercerita mengenai keadaan di negara kami masing-masing, bagaimana keadaan politik dan isu-isu kemanusiaan yang masih hangat (Hukuman mati terhadap pengedar narkoba asal Brazil, Gay Marriage legalized dan liberalisme di Selandia Baru, serta konflik antar negara amerika latin, dan terakhir tentunya kami bercerita mengenai cewek-cewek peserta Winterjugendkurs di Freiburg. Setiap malam hampir tak terkecuali. 

Setiap anak di kamar 202 punya karakter yang berbeda satu dengan yang lain. Christian mempunyai sifat yang menggebu-gebu terutama jika ia bercerita mengenai wanita. Alan orangnya kalem dan santai, lebih ke males sih. Lewis mempunyai sifat bijak dan penengah. Dan Aku orangnya terlalu serius, haha. 

Walau kamar kami sama, kami tidak belajar di kelas yang sama. Dalam sistem belajar, kami dibagi menjadi empat kelas. Urut dengan kemampuan Bahasa Jerman kami saat Placement Test, kelas mulai dari kemampuannya yang biasa, sedang (A2), baik (A2-B1), dan sangat baik (B1). Beruntungnya aku masuk di Kelas Ketiga yang diajar oleh Marek, ia adalah orang Polandia. Christian berada di kelas Kedua. Lewis dan Alan berada di kelas Keempat. Oh ya, Kami mengikuti kegiatan belajar-mengajar di Goethe Institut di Freiburg, dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Selain itu kami juga memiliki ekstrakurikuler ada musik, fotografi, jurnalistik, dan olahraga. Dan aku mengambil kelas Fotografi yang diajar oleh Dietmar, senang sekali juga karena ia bisa berbahasa Indonesia. 

Setiap hari Senin sampai dengan Jumat kami belajar dari pukul 09.30 sampai dengan 16.00. Lalu di tengahnya ada jeda makan siang yang selalu kami habiskan untuk makan siang di Mensa (Kantin Kampus) di Albert-Ludwig Universitaet Freiburg. Tempatnya lumayan ramai dan menyediakan banyak pilihan makanan. Dalam setiap harinya makanan selalu berubah dan bervariasi. Makanan yang disajikan berasal dari seluruh dunia, ada juga makanan India seperti kari. Di Mensa juga menyediakan makanan vegetarian terutama bagi vegetarian dan kaum muslim yang tidak makan daging babi. Selain itu ada juga schneller teller di sini jarang sekali antrean, karena jenis makanannya yang tidak ada campurannya alias plain, lalu ada juga Bistro dengan sistim buffet dan tentunya lebih mahal. Waktu makan kami hanya berlangsung selama satu jam dari jam 13.30 sampai dengan 14.30. Dan jujur tempatnya agak lumayan jauh dari Goethe Institut, karena di tempuh dengan jalan kaki saja. Setelah itu kami melanjutkan aktivitas dengan belajar sampai jam empat sore.

Selebihnya adalah waktu jalan-jalan dari jam empat sore sampai enam sore. Biasanya kami jalan-jalan di daerah kota tua  Tempatnya tidak jauh dari altstadt (kota tua) Freiburg. Di sana banyak sekali pusat perbelanjaan mulai dari HnM, Tomy Hilfiger, Espirit, Aldi, Saturn, Thalia Buchhandlung, Sueddeutsche Zeitung, Mueler (swalayan), dan masih banyak lagi. Senangnya lagi Januari (winter season) banyak sekali diskon terutama di HnM pada waktu itu, kaos bisa dipotong habis-habisan sampai seharga 5 Euro (75.000), kemeja 10 Euro (150.000). Dan jangan lupa kalo sudah sampai Jerman adalah belanja coklat coklat Nutella di Jerman bisa seharga 45.000 untuk 1 kg nya. Coklat mulai dari dark chocolate, lindt, sampai yang banyak gulanya semua ada, dan murah jika dibandingkan beli di Indonesia. Bener-bener kesempatan luar biasa buat belanja murah di Jerman, terutama jangan lupa untuk mengunjungi Flohmarkt (pasar loak) yang dibuka di gedung-gedung serbaguna ataupun di jalanan. Itu absolutely murah, barang bekas dengan kualitas yang masih bisa dipertanggungjawabkan. 

Mengingat jam enam sore kami harus kembali ke Jugendherberge. Maka kami harus segera pulang tepat waktu karena hari benar-benar sudah gelap (seperti jam 7/8 malam). Dan karena jarak altstadt dengan Jugendherberge sangat jauh, kami disuruh untuk menggunakan tram (S-Bahn) dan itu gratis tis dengan tujuan Roemerhof. dan dari halte Roemerhof kami masih harus berjalan sekitar 15 menit untuk sampai ke Jugendherberge. Jalanannya gelap dan sepi. huhu, tapi selalu seru karena kami selalu pulang bersama-sama dengan teman-teman, sehingga suasana menjadi hangat dan menyenangkan.


Saturday, July 2, 2016

Berselubung Hutan Hitam (Black Forest) #1

Hallo leute. Ini adalah kirimanku yang pertama di Blog catatan Seto Damar. Di dalam kiriman pertamaku ini aku ingin sekali bercerita mengenai pengalamanku pertama kali pergi ke Jerman. Tepatnya ada di Negara Bagian Baden-Wurtemberg di Kota Kecil Freiburg. Kota tersebut terletak dekat dengan perbatasan Negara Perancis yaitu kota Strasbourg. Hanya sekitar 30 menit perjalanan dari Kota Freiburg ke Kota Strasbourg menggunakan sepeda. 

Oh ya, bagaimana dulu pertama kalinya aku bisa kesana? Jadi puji Tuhan aku mendapatkan sebuah stipendium (beasiswa) selama tiga minggu untuk berkunjung di Kota Freiburg. Aku mendapatkannya dari program Partner Schule (PASCH) dari Goethe Institut Indonesien, karena sekolahku SMA Kolese De Britto juga merupakan sekolah kerjasama PASCH. Awalnya program ini diperuntukkan bagi siswa yang mendapat nilai terbaik pada ujian Bahasa Jerman (Goethe Zertifikat A1). Sayangnya, aku mendapatkan peringkat kedua. Lalu datanglah kesempatan kedua yaitu Wettbewerb atau Kompetisi. Di sana aku harus membuat presentasi dalam bentuk apapun seperti film, buku, presentasi dan lain-lain. Dan aku memilih untuk membuat Film. Film itu bertemakan mengenai Buku, karena Indonesia pada saat itu (tahun 2015) mendapatkan kehormatan sebagai tamu istimewa pada Pameran Buku Frankfurt (Frankfurt Buchmesse).  

Lanjut cerita aku akhirnya lolos mendapatkan satu tiket untuk mengikuti Winterjugendkurs. Dari Indonesia kami berjumlah sekitar 19 orang. 9 orang tinggal di Kota Frankfurt dan 10 orang tinggal di Kota Freiburg. Kami pertama harus menyelesaikan banyak sekali administrasi untuk membuat visa Schengen. Ada mulai foto, surat-surat pernyataan sampai tanda tangan orang tua yang harus disetujui notaris (jika anda berumur di bawah 18 tahun). Aku harus bolak-balik Jakarta-Jogja untuk mengurus visa di kedutaan besar Republik Federal Jerman. Tapi puji Tuhan pengurusan visa dapat berjalan dengan cepat dan lancar. 

Pada tanggal 10 Januari 2015 kami 19 orang ditambah 2 pendamping pergi ke Frankfurt Flughafen sekitar jam 8/9 malam di bandara Soekarno-Hatta menggunakan maskapai Lufthansa (maskapai nasional Jerman). Dari Jakarta kami harus transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur. Dan dari Kuala Lumpur kami melanjutkan penerbangan langsung ke Frankfurt. Penerbangan itu membutuhkan total sekitar 14 jam. Lama sekali memang, dan perasaanku pada waktu itu antara senang dan takut. Karena belum lama dari penerbanganku ada penembakan pesawat Malaysia Airlines di langit Ukraina. 

Kami sampai di Frankfurt Airport (Fraport) pagi sekitar jam 7 pagi. Di sana kami telah ditunggu oleh dua Begleiterin dari Frankfurt dan Freiburg. Dari Freiburg adalah Dagmar beliau adalah Guru Bahasa Jerman. Akhirnya rombongan Indonesia pun harus berpisah ke kota tujuan masing-masing yaitu Frankfurt dan Freiburg. 

Dari Frankfurt kami menggunakan van/ bus travel menuju kota Freiburg yang lumayan jauh. Kami membutuhkan sekitar 3 Jam dari Frankfurt ke Freiburg. Sesampainya di Freiburg kami tinggal di sebuah wisma yang bernama Jugendherberge. Tempatnya persis bersebelahan dengan Black Forest yang terkenal itu dan Freiburger Stadium. Di sana kami telah disambut dengan Begleiter/inen dan Lehrer/in kami. Ada Nico, Jana, Dietmar Christiane, Johannes, Kyra, Felix, Marek, dan Ulli.

Hari itu sungguh berkesan karena ternyata kami juga kedatangan teman-teman dari berbagai penjuru dunia terutama Amerika Latin. Kami, peserta Winterjugendkurs Freiburg ini datang dari Asia seperti Indonesia dan Nepal, lalu Australia dan Selandia Baru yang juga beberapa diantaranya berasal dari Singapura dan Filipina. Lalu dari Amerika Latin ada dari Panama, Kolumbia, Venezuela, Peru, Brazil, Uruguay, Chile, Argentina, Bolivia. Total kami ada 56 anak. Waw sebuah pengalaman yang benar-benar baru. Sesaat mungkin aku merasakan jetlag, homesick, dan tentunya cultural shock. Tapi secara kesulurhan perasaanku sangat excited.