Kali ini aku masih akan melanjutkan mengenai ceritaku pertama kali menginjakkan kaki di Jugendherberge-nya Freiburg.
Di Jugendherberge aku tinggal selama kurang lebih tiga minggu di kamar nomor 202. Di sana aku tinggal bersama teman-teman dari Brazil, Selandia Baru, dan Bolivia. Mereka bernama Christian, Lewis, dan Alan. Setiap malam kami bercerita mengenai keadaan di negara kami masing-masing, bagaimana keadaan politik dan isu-isu kemanusiaan yang masih hangat (Hukuman mati terhadap pengedar narkoba asal Brazil, Gay Marriage legalized dan liberalisme di Selandia Baru, serta konflik antar negara amerika latin, dan terakhir tentunya kami bercerita mengenai cewek-cewek peserta Winterjugendkurs di Freiburg. Setiap malam hampir tak terkecuali.
Setiap anak di kamar 202 punya karakter yang berbeda satu dengan yang lain. Christian mempunyai sifat yang menggebu-gebu terutama jika ia bercerita mengenai wanita. Alan orangnya kalem dan santai, lebih ke males sih. Lewis mempunyai sifat bijak dan penengah. Dan Aku orangnya terlalu serius, haha.
Walau kamar kami sama, kami tidak belajar di kelas yang sama. Dalam sistem belajar, kami dibagi menjadi empat kelas. Urut dengan kemampuan Bahasa Jerman kami saat Placement Test, kelas mulai dari kemampuannya yang biasa, sedang (A2), baik (A2-B1), dan sangat baik (B1). Beruntungnya aku masuk di Kelas Ketiga yang diajar oleh Marek, ia adalah orang Polandia. Christian berada di kelas Kedua. Lewis dan Alan berada di kelas Keempat. Oh ya, Kami mengikuti kegiatan belajar-mengajar di Goethe Institut di Freiburg, dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Selain itu kami juga memiliki ekstrakurikuler ada musik, fotografi, jurnalistik, dan olahraga. Dan aku mengambil kelas Fotografi yang diajar oleh Dietmar, senang sekali juga karena ia bisa berbahasa Indonesia.
Setiap hari Senin sampai dengan Jumat kami belajar dari pukul 09.30 sampai dengan 16.00. Lalu di tengahnya ada jeda makan siang yang selalu kami habiskan untuk makan siang di Mensa (Kantin Kampus) di Albert-Ludwig Universitaet Freiburg. Tempatnya lumayan ramai dan menyediakan banyak pilihan makanan. Dalam setiap harinya makanan selalu berubah dan bervariasi. Makanan yang disajikan berasal dari seluruh dunia, ada juga makanan India seperti kari. Di Mensa juga menyediakan makanan vegetarian terutama bagi vegetarian dan kaum muslim yang tidak makan daging babi. Selain itu ada juga schneller teller di sini jarang sekali antrean, karena jenis makanannya yang tidak ada campurannya alias plain, lalu ada juga Bistro dengan sistim buffet dan tentunya lebih mahal. Waktu makan kami hanya berlangsung selama satu jam dari jam 13.30 sampai dengan 14.30. Dan jujur tempatnya agak lumayan jauh dari Goethe Institut, karena di tempuh dengan jalan kaki saja. Setelah itu kami melanjutkan aktivitas dengan belajar sampai jam empat sore.
Selebihnya adalah waktu jalan-jalan dari jam empat sore sampai enam sore. Biasanya kami jalan-jalan di daerah kota tua Tempatnya tidak jauh dari altstadt (kota tua) Freiburg. Di sana banyak sekali pusat perbelanjaan mulai dari HnM, Tomy Hilfiger, Espirit, Aldi, Saturn, Thalia Buchhandlung, Sueddeutsche Zeitung, Mueler (swalayan), dan masih banyak lagi. Senangnya lagi Januari (winter season) banyak sekali diskon terutama di HnM pada waktu itu, kaos bisa dipotong habis-habisan sampai seharga 5 Euro (75.000), kemeja 10 Euro (150.000). Dan jangan lupa kalo sudah sampai Jerman adalah belanja coklat coklat Nutella di Jerman bisa seharga 45.000 untuk 1 kg nya. Coklat mulai dari dark chocolate, lindt, sampai yang banyak gulanya semua ada, dan murah jika dibandingkan beli di Indonesia. Bener-bener kesempatan luar biasa buat belanja murah di Jerman, terutama jangan lupa untuk mengunjungi Flohmarkt (pasar loak) yang dibuka di gedung-gedung serbaguna ataupun di jalanan. Itu absolutely murah, barang bekas dengan kualitas yang masih bisa dipertanggungjawabkan.
Mengingat jam enam sore kami harus kembali ke Jugendherberge. Maka kami harus segera pulang tepat waktu karena hari benar-benar sudah gelap (seperti jam 7/8 malam). Dan karena jarak altstadt dengan Jugendherberge sangat jauh, kami disuruh untuk menggunakan tram (S-Bahn) dan itu gratis tis dengan tujuan Roemerhof. dan dari halte Roemerhof kami masih harus berjalan sekitar 15 menit untuk sampai ke Jugendherberge. Jalanannya gelap dan sepi. huhu, tapi selalu seru karena kami selalu pulang bersama-sama dengan teman-teman, sehingga suasana menjadi hangat dan menyenangkan.

No comments:
Post a Comment